Rabu, 07 Desember 2011

Soal Wahabi: Kenapa Menara Tidak Dihancurkan…???


Kalau diperhatikan, nampaknya ada dua buah tema tulisan di Kompasiana yang mendapat tanggapan dan komentar sangat besar, bahkan garang, dan sering keluar dari ‘fatsoen’ akhlak yang baik. Banyak keluar emosi, caci maki, melecehkan, dsb. Tema pertama antara lain mengenai tema-tema yang menyentuh keberagamaan pemeluk agama lain, Kristen, misalnya sebagaimana  yang ditulis oleh Cak Zulkarnaen El-Madury yang berbicara mengenai Tritunggal dalam agama Kristen, yang mendapat komentar yang memprihatinkan. Tema, kedua adalah mengenai Wahabi, seperti yang ditulis oleh bocahndeso dalam tulisan pengenai peristiwa Priok dan Wahabi yang menganalisa soal rencana pembongkaran makam Waliyullah mbah Priok.
Saya ingin menilik sedikit mengenai fenomena Wahabi tersebut, karena cukup lama tinggal di Arab Saudi dan banyak membaca karya-karya ulama Wahabi serta kajian ilmiah mengenai hal tersebut. Dalam komentar terhadap tulisan bocahndeso tersebut, para komentator, terutama pengikut Wahabi yang tinggal di Indonesia, sebagaimana lazimnya selalu menggunakan kata-kata yang ’serem’, seperti memfitnah, syirik, dsb. (Apakah ulama salafussaleh tidak memahami hal tesebut. Nauzubillah). Kalau diperhatikan isi komentar mereka, rata-rata cuma ‘modal semangat’ tapi kurang pembacaan. Yang lumayan komentarnya mungkin yang datang dari mereka yang tinggal dan belajar di Arab Saudi.
Soal makam atau kuburan Wali Embah Priok yang menjadi ‘biang perdebatan’, walau sebenarnya hanya beda pendekatan saja. (Sedikit banget bedanya. Beda tipis dech…). Baginda Nabi dalam haditsnya memang pernah melarang ziarah kubur, bisa jadi pada masa awal penyebaran Islam, tapi kemudian beliau pun beliau membolehkannya dalam hadits yang lain. Kalau Imam Muhammad bin Abdul Wahab, membabat habis soal ziarah kubur itu, karena dikhawatirkan, akan menyimpangkan akidah seseorang. Tapi para ulama lain, membolehkannya dengan alasan sebagaimana dijawab oleh bocahndesa mengingatkan kematian, dan Nabi embolehkannya. (ingat, ucapan Umar bin Khattab, soal hajar Aswad, juga sama konteksnya dengan hal tersebut). Mestinya  persoalan yang sebenarnya tidak jadi persoalan besar dalam konteks pemahaman fikih, dan ada rujukannya dari Nabi.
Nah, saya cingin mencontohkan, bagaimana sikap Ulama Wahabi yang tidak konsisten terhadap bid’ah - tema yang juga pernah saya contohkan - dalam tulisan sebelumnya, dan juga ada kompasianer yang meminta saya menulis soal bid’ah tersebut, kendati saya segen-segenan. Soal yang sebenarnya masuk ke dalam bid’ah, dan tidak ada rujukannya, bahkan  dalam Al-Qur’an dan juga hadits Nabi, dan juga tidak dilakukan pada waktu Nabi hidup, yaitu soal ’MENARA‘, yang banyak dibangun bareng di Masjid.
Menara dalam bahasa Arab, terambil dari kata ‘Naar’, yang artinya api. Jadi, manaarat, dalam bahasa Arab, artinya adalah ‘tempat api’ atau ‘tempat meletakkan api’. Jadi, konsep menara dalam masjid merupakan pengaruh dari akidah Persia Kuno, Zoroaster yang menyembah api, yang termasuk syirik. Menara itu oleh penganut Musyrik Zoroaster dijadikan tempat api yang kemudian mereka sembah. Sebagai bagian dari fungsi budaya, menara tersebut diambil dalam bangunan Masjid sebagai tempat azan agar terdengar lebih keras dan jelas. Menara ini masuk ke dalam kategori ‘kearifan’ lokal Persia. Itu nalar para ulama yang berfikir non-bid’ah (Non-Wahabi) yang mengambil budaya lain sebagai bagian dari ‘agama’ selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Karena agama Islam dan budaya bagaikan dua sisi mata uang, dapat dibedakan tapi tak dapat dipisahkan.
Nah, aneh saja kan, kalu soal ziarah kubur diributkan karena bid’ah, kendati hanya perbedaan tipis saja. Lho kok ‘menara‘ yang jelas-jelas akar katanya menjadi ‘biang syirik’, penyembahan api, tidak diusik-usik. Kalau Ulama Wahabi konsisten, kan seharusnya menara yang terdapat di Masjidil haram, Masjid Nabawi, dsb, tersebut dihancurkan, sehingga masjidil Haram dan Masjid Nabawi tidak perlu pake menara. Tapi aneh kan, bahkan membangun masjid di kawasan baru dengan menara yang megah.  sisi inilah yang sering saya katakan sebagai ‘kurang pembacaan’, karena hanya menggunakan satu hadits doang (padahal hadits Baginda Nabi ribuan jumlahnya) yaitu ‘Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin finnar’, semua bid’ah itu sesat dan kesesatan itu di neraka.
Jadi kenapa kok menara tidak dihancurkan saja sekalian karena bid’ah. Padahal kalau dibandingan antara ‘kuburan’ dengan ‘menara’, ‘Menara’ itu lebih syirik asal usulnya ketimbang makam.
Gak konsisten itu namanya…. cuma yang enak saja ditelan, yang gak cocok dibilang bid’ah…..capek dech….
Fahal min Muddakir…???

0 komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah sepuas anda