Melata itu sifat binatang. Karena pada hakikatnya manusia memiliki tabi'at seperti Binatang. Namun pada diri manusia itu diciptakan kontrol pengendali untuk keseimbangannya. Diantara manusia ada yang mampu dan yang tidak mampu menempatkan dirinya sebagaimana layaknya agar bisa disebut manusia. Allah menyerupakan manusia seperti binatang, khusus bagi yang buas dalam menjalani hidup, bahkan disebut lebih gila dari binatang. Coba secara Biologis Binatang bisa menciptakan keturunan menurut aturan yang berlaku secara klasifikasi. Ayam contohnya hanya bisa berhubung dengan Ayam, kambing hanya bisa berhubungan dengan kambing dll. Tetapi manusia Obnormal, celaka, bisa tidur dengan siapa saja termasuk binatang, dan sering menyalahi kodrat. Jelasnya manusia itu adalah aktor yang paling menentukan gerak dan arah gerak kehidupan didunia. Allah tidak pernah menyebut binatang menjadi Sebab, tetapi manusia yang menjadi sebab. Apapun jenis kehidupan di Alam semesta ini tidak sama dengan manusia dan tak akaan menjaadi sebab. Sehingga firman Allah telah membuktikan bahwa kerusakan Alam semesta itu sebab manusia. Manusia dari bahasa berarti pelupa, atau makhluq yang tertinggal, artinya ia diciptakan terakhir dengan desain Tuhan untuk memimpin Alam semesta dengan menempatkannya di dunia sebagai markaz pengendali. Dengan selaksa keanehan pada diri manusia, nyata sekali bahwa manusi adalah sumber peristiwa dan kebangkitan zaman demi zaman. Sebagai periode makhluk yang bernama manusia, menggambarkan sebuah era kehidupan yang penuh dengan demensi, atau gelombang frekwensi yang menyuguhkan peradaban yang senantiasa berkembang. Tiada makhluk setanding manusia, siapapun makhluqnya. Dengan prilaku, karakter atau watak, manusiaa berdiri pada ide ide innovasi dan aktual. Setiap zaman dilalui dengan kemajuan melangkah dan perkembangan kecerdasan yang menghasilkan kesimpulan berkarya dan berwacana. Lalu mungkinkah manusia itu sebuah evolusi dari hewan. Jelas tidak masuk akal. Tidak ada satupun jenis makhluq selain manusia yang memiliki tingkat kecerdasan yang memungkinkan mereka berkembang peradabannya, apapun jenisnya makhluq itu tidak akan pernah sama dengan manusia yang memiliki demensi kehidupan meningkat dan melaju pesat menurut kelompoknya. Lalu jenis hewan mana yang mirip manusia, tidak pernah ada susunan organ tubuh yang sama dengan manusia, yang kemudian mempengaruhi cara pergaulannya, aktivitasnya, keturunan, asuhannya, biologisnya, cara hidupnya dan tingkat kecerdasannya, bahkan hewan yang namanya kera ketika dididik itu sifatnya monoton, lamban dan masih memerlukan komando manusia. Ada proses kehidupan yang tentu sangat berbeda dari manusia, yaitu kelahiran. Bayi untuk menjadi berfungsi wajar, itu memerlukan proses 1 tahun dengan segala kekurangannya.Selasa, 23 Februari 2010
Hewan Berakal ?.
Melata itu sifat binatang. Karena pada hakikatnya manusia memiliki tabi'at seperti Binatang. Namun pada diri manusia itu diciptakan kontrol pengendali untuk keseimbangannya. Diantara manusia ada yang mampu dan yang tidak mampu menempatkan dirinya sebagaimana layaknya agar bisa disebut manusia. Allah menyerupakan manusia seperti binatang, khusus bagi yang buas dalam menjalani hidup, bahkan disebut lebih gila dari binatang. Coba secara Biologis Binatang bisa menciptakan keturunan menurut aturan yang berlaku secara klasifikasi. Ayam contohnya hanya bisa berhubung dengan Ayam, kambing hanya bisa berhubungan dengan kambing dll. Tetapi manusia Obnormal, celaka, bisa tidur dengan siapa saja termasuk binatang, dan sering menyalahi kodrat. Jelasnya manusia itu adalah aktor yang paling menentukan gerak dan arah gerak kehidupan didunia. Allah tidak pernah menyebut binatang menjadi Sebab, tetapi manusia yang menjadi sebab. Apapun jenis kehidupan di Alam semesta ini tidak sama dengan manusia dan tak akaan menjaadi sebab. Sehingga firman Allah telah membuktikan bahwa kerusakan Alam semesta itu sebab manusia. Manusia dari bahasa berarti pelupa, atau makhluq yang tertinggal, artinya ia diciptakan terakhir dengan desain Tuhan untuk memimpin Alam semesta dengan menempatkannya di dunia sebagai markaz pengendali. Dengan selaksa keanehan pada diri manusia, nyata sekali bahwa manusi adalah sumber peristiwa dan kebangkitan zaman demi zaman. Sebagai periode makhluk yang bernama manusia, menggambarkan sebuah era kehidupan yang penuh dengan demensi, atau gelombang frekwensi yang menyuguhkan peradaban yang senantiasa berkembang. Tiada makhluk setanding manusia, siapapun makhluqnya. Dengan prilaku, karakter atau watak, manusiaa berdiri pada ide ide innovasi dan aktual. Setiap zaman dilalui dengan kemajuan melangkah dan perkembangan kecerdasan yang menghasilkan kesimpulan berkarya dan berwacana. Lalu mungkinkah manusia itu sebuah evolusi dari hewan. Jelas tidak masuk akal. Tidak ada satupun jenis makhluq selain manusia yang memiliki tingkat kecerdasan yang memungkinkan mereka berkembang peradabannya, apapun jenisnya makhluq itu tidak akan pernah sama dengan manusia yang memiliki demensi kehidupan meningkat dan melaju pesat menurut kelompoknya. Lalu jenis hewan mana yang mirip manusia, tidak pernah ada susunan organ tubuh yang sama dengan manusia, yang kemudian mempengaruhi cara pergaulannya, aktivitasnya, keturunan, asuhannya, biologisnya, cara hidupnya dan tingkat kecerdasannya, bahkan hewan yang namanya kera ketika dididik itu sifatnya monoton, lamban dan masih memerlukan komando manusia. Ada proses kehidupan yang tentu sangat berbeda dari manusia, yaitu kelahiran. Bayi untuk menjadi berfungsi wajar, itu memerlukan proses 1 tahun dengan segala kekurangannya.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Apakah hewan berakal?? Klo jawabannya tdk, bagaimana dengan dolphin yang bisa mengerti ketika disuruh ini itu oleh manusia..
BalasHapus